Antara Bajingan dan Banci
Beberapa hari yang lalu, gue lupa kapan tepatnya, gue nonton Claudia Jasmine di salah satu tv swasta. Overall film itu temanya
klasik banget, khas film-film romance Indonesia lha. Tapi ada beberapa kalimat dalam film itu yang menohok gue banget. dan sempet jadi bulan-bulanan nyokap gue, karna gue nonton bareng dia.
Salah satu kalimat di film itu bilang : “Laki-laki di dunia ini cuma ada dua tipe, yaitu bajingan dan banci. Gak ada tipe laki-laki baik dan bajingan”.
Dan setelah gue pikir-pikir, kalimat itu ada benernya. Terutama dalam kasus hidup gue. Antara bajingan dan banci, pilihan mana yang paling baik? Gak ada!!!!!!!!!!!!!!!!! Well, mungkin itu cuma kalimat di film dan agak konyol kalau gue masukin ke dalam pikiran gue. Sayangnya, gue sudah menelan kalimat itu untuk kehidupan gue saat ini. Karena selama ini laki-laki yang gue temuin ya kalau gak bajingan, ya banci. Terlepas dari makna secara harfiah atau bukan, dari kedua kata “bajingan” dan “banci”, itu yang selalu harus gue hadapin.
Sekarang, gue dihadapkan pada pilihan kedua kata itu. Bukan artinya gue menyalahkan Dia yang sekarang, yang saat ini ada disamping gue adalah pilihan dari kedua kata itu, bukan. Hanya saja, perilaku Dia sudah mendekati kedua kata itu. Dia berubah!!!!!!!!!!!!! nyaris menjadi bajingan dan nyaris pula menjadi banci. Untuk pilihan kata “banci”, gue tidak menyebut Dia sebagai laki-laki yang bertingkah keperempuanan. Dia masih laki-laki normal, tapi sikapnya pengecut kayak “banci”.
Dia berubah!!!!!!!!!!!! entah karena perasaaan gue, atau emang yang sebenarnya. Belakangan ini, Dia tidak seperti ketika awal bertemu atau awal menjalin hubungan. Apakah setiap laki-laki kayak gitu? Manis di awalnya aja? Well, ini gue katagorikan mendekati bajingan…..
Dia berubah!!!!!!!!!!!!!! apa Dia tahu, kalau belakangan ini gue menangis untuk Dia? Gue, yang bersumpah dalam hidup gue, bahwa gak akan sudi mengeluarkan air mata hanya untuk laki-laki, ternyata untuk yang kedua kalinya, gue menangis untuk mahluk adam itu. Kenapa dia bersikap gak peduli sama gue, kenapa dia jadi gak semanis dulu? Apakah setiap laki-laki kayak gitu? Peduli dan manis pada awalnya aja? Well…kalo gitu Dia bajingan….
Apa Dia mulai bosan dengan gue? Bosan menghadapi tingkah laku gue? Bosan dengan apa yang sudah dia komitmen kan dengan gue? Then why…dulu Dia mengucapkan segala komitmennya itu, hingga nyaris bikin jantung gue copot. Dia bajingan….
Apa Dia sudah lupa dengan segala komitmennya itu? Ingat…gue gak pernah minta apapun dari Dia, baik segala komitmennya itu. Lalu, kemana perginya segala komitmennya itu. Damn!!!!!!!!!! Dia banci….banci kaleng……..Gue cape…cape….sampai berapa lama lagi gue harus bertahan? Gue ikhlas kalau memang semuanya harus diakhiri. Toh, sejak awal, gue sudah mempersiapkan segalanya sekalipun yang terburuk. Gue sudah membiasakan diri gue untuk bisa sendiri, tanpa ada bayang-bayang Dia dalam hidup gue. Emang sakit dan menyakitkan..tapi itu harus gue coba. Kayak selama ini gue gak pernah mencoba untuk menghilangkan segala sakit hati aja gara-gara laki-laki…
Komunikasi? Percaya? Apa? Semua udah gue lakukan, tapi Dia gak bisa melihat itu. Well…Dia banci………….Gue cape…cape….”kalo lo gini terus, gak mungkin lo bakal dapat laki-laki buat calon suami lo dong Mi” itu kata suara yang ada di otak gue. Persetan dengan itu…gue cape….
Kenapa posisi gue harus selalu dibikin menggantung, layaknya jemuran yang gak diangkat di jemuran…..Kalo emang Dia ingin berakhir…ya sudah…diakhiri aja…..Itu pasti mudah buat Dia…dan gue gak minta apa-apa dari Dia, sekalipun menagih komitmennya Dia. Gue bakal menghilang dari kehidupan Dia. Sama halnya gue juga suka menghilang dari kehidupa orang-orang yang nyaris membuat gue gila………………..
Gue cape….Oke…mungkin di luar sana masih banyak laki-laki yang “baik” bukan bajingan atau banci…Tapi…cukup…cukup…gue udah cape….Apa itu pepatah bilang…cinta akan menemukan atau ditemukan selama manusia mencari jalan untuk mendapatkan cinta itu. Shit….cinta itu tai kucing….dan gue masih menganggap cinta itu tai kucing. Padahal Dia udah janjin, akan membuat cinta gue gak tai kucing lagi. Tapi nyatanya enggak. Dan Dia bajingan….
Atau…justru gue yang bajingan dan banci…atau emang gue yang tai kucing…semua itu bisa aja bener…dan lebih baik mungkin istilah itu nempel didiri gue…lebih baik daripada gue harus menyalahkan orang lain. Gue yang bajingan…sehingga gue gak pantes dapet apapun yang baik….
Gak tahu, gue cuma cape…cape….menghadapi
semua ini….Gue gak mau bilang apa-apa sama Dia…Biar Dia aja yang bilang…atau entahlah….gue bingung….
Antara bajingan dan banci……………..